Sabtu, 24 April 2010

punahnya sebuah generasi


Punahnya sebuah generasi?

Hei kaum perempuan? Pa kabar semuanya….masihkah kalian gencar dengan feminisme? Apakah kalian masih ingin mempertahankan semboyan “2 anak cukup”? atau bahkan mungkin “gak perlu dech punya anak, bikin repot saja”. Huft lagi-lagi tuntutan karier memaksa seorang wanita memutuskan untuk tak punya anak, lebih parah lagi : tak menikah!!!

Tulisan ini, terinspirasi oleh perjalananku hari ini. Ya, hari ini aku kembali mengunjungi sahabat-sahabat lama (ayah)ku. Aku kangen masa kecilku, itulah kenapa aku memutuskan membelah kota jogja hari ini. Memacu motorku dari ujung utara ke selatan kota ini.

Alkisah bapak punya sahabat, seorang kakek abdi dalem di keraton Jogjakarta,yang kini juga telah tiada. Simbah, begitu aku memanggilnya, memiliki seorang istri yang baru aku tahu merupakan istri keempatnya. Wow????!!! Dan sepeninggal simbah, istrinya hanya seorang diri menghuni rumah yang (masya Allah) berada di suatu di daerah terpencil di kota B. Tiap kali aku kesana, akan selalu ada perasaan was-was, apakah ban motorku masih baik-baik saja. Maklum, tempat tinggal simbah ada di bukit kecil yang belum dirambah aspal. Alhasil aku harus mengendarai motorku di atas batu-batu yang lumayan gede bin tajam. Begitupun siang ini, setelah melalui perjalanan yang cukup membuat-maaf-my ass-puanas (hheheheh,), sampailah aku di depan rumah tua di pinggir sebuah makam tua bin besar…srrrrrrrrrrrr…agak horror juga siang-siang. Kulangkahkan kaki, berharap simbah putri menyambutku bersama kucing-kucing peliharaannya. Tapi, sampai aku menelusuri halaman berdebu itu tak kutemui simbah maupun ayam dan kucing-kucingnya. Duh…perasaanku tambah gak enak. Maklum rumah tua ini merupakan rumah satu-satunya di bukit kecil ini. Jarak dari tetangga terdekat memakan waktu sekitar 10 menit berjalan kaki. Selain dikelilingi hutan kecil, sebelum masuk halaman rumah, aku harus melewati tanjakan yang langsung berhadapan dengan kuburan tua…huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…but karena tekadku bulat, aku terus berjalan celingukan sampai ke bagian rumah paling timur. Masya Allah, tergembok kuat. Aku masuk ke pendopo, tak ada tanda-tanda kehidupan. Aku ke teras bagian depan, semua kursi, foto-foto simbah tak ada lagi. Ya Allah, kemana simbah putri yang kini kesepian diri itu???

Pertanyaanku terjawab sudah, setelah aku turun bukit, aku bertemu seorang lelaki tua di depan makam. Kata kakek tua itu, simbah telah pindah ke kampong halamannya di kota S. Oh Tuhan, baru kutahu, kalo simbah putri ini adalah putri tunggal di keluarganya dulu. Setelah menikah, ternyata simbah harus menerima kenyataan bahwa beliau tidak bisa punya anak. Karena itu juga, beliau diceraikan oleh suami pertamanya yang seorang guru. Walau begitu, simbah putri akhirnya dinikahi simbah (sahabat ayahku itu) dan dijadikan istri keempatnya (hauo poligami??? Kurang tahu aku). Seperti halnya sinetron-sinetron di tipi-tipi, ternyata putra-putri tirinya tak menerimanya. Alhasil sampai simbah meninggal, simbah putri hanya tinggal berdua di rumah tua itu bersama simbah.

Dan setelah simbah meninggal tahun 2007, simbah putrid hanya tinggal sendirian bersama peliharaannya di rumah tua itu. Tanpa ANAK, tanpa SAUDARA!! Masya Allah, aku pun tak mau membayangkan kesepian yang setiap saat menghinggapi simbah putri. Untungnya, walau jarang, beberapa kerabat jauhnya masih sering menengoknya. Akupun demikian, walau tak ada pertalian darah sedikitpun, namun aku punya janji pada diri sendiri bahwa aku tak ingin membiarkannya kesepian, sebisa mungkin aku akan mengunjunginya. Sekedar memastikan beliau baik-baik saja. Namun, kesibukan kuliah memaksaku untuk lama tak menjenguknya. Bahkan 2 bulan lalu, beliau menelponku untuk mengunjunginya. But, aku lagi-lagi harus menolaknya…

Dan kini aku memacu motorku ke rumah simbah. Berbekal petunjuk dari tetangga beliau, aku nekat pergi ke tempat yang mungkin seumur hidupku aku belum pernah menjamahnya. Sebuah daerah di ujung selatan provinsi Jogjakarta. Aku ingin melihat beliau, aku kangen pada beliau yang dulu sering mendengar keluh kesahku ketika aku kangen bapak, yang selalu memberiku nasehat ketika aku berbeda pendapat dengan ibuku, yang selalu menenangkanku jika aku punya masalah apapun itu. Allah, ijinkan aku menemui wanita tua itu. Wanita yang tegar mendampingi simbah selama 30 tahun, wanita yang harus menerima kenyataan bahwa generasi keluarganya harus terputus setelah dia karena ketidakmampuannya memiliki putra…

Dan Alhamdulillah…aku menemukannya…senyum lebar itu masih ada, tubuh lemah itu masih kuat memelukku, dan tak terasa air mataku menetes karenanya…

Huft…begitulah hariku hari ini. Kembali tersadar, bahwa aku tak boleh egois memikirkan duniaku sendiri, kembali mengingat, bahwa banyak orang yang ingin kita bahagiakan walau hanya dengan sebuah “kunjungan”. Aku pun kembali memaknai kodratku, tak akan egois memikirkan karierku sendiri tapi juga calon keluargaku kelak (wwkwkkwkwkwkkw---berat berat =p)

Dan tiba-tiba aku teringat ketika seorang teman bertanya: “mo punya anak berapa besok?”(hahahhahah). Sepertinya jawabanku kini: ” agak banyak dech, biar gak kesepian” wwkwkkwkwkwk..pikirkan lagi kawan…^^

malam Hangat di Hiburan rakyat

Malam ini kembali kutelusuri jejak hidup bapakku. Ya, aku kembali ke suatu tempat lebih tepatnya pabrik dimana bapak dulu pernah mengabdikan lebih dari 25 tahun hidupnya. Dan aku bangga, ketika aku melihat tempat itu masih berdiri kokoh, dengan bau anehnya yang kadang memusingkan. Sebuah pabrik gula bersejarah di provinsi Yogyakarta, PG Madukismo, dengan para karyawannya yang terkenal “setia” layaknya para abdi dalem di keraton Yogyakarta. Maklumlah, perusahaan tua ini masih dianggap bagian dari keraton Yogyakarta walau bagaimana kenyataannya (kepemilikan saham_red) kini hanya sedikit orang yang tahu.

Sudah hampir 4 minggu, pabrik gula ini mengadakan selamatan untuk prosesi Giling yang dinamakan “Cembeng”. Nama yang cukup aneh, namun memiliki sejuta makna dimana pabrik akan melakukan penggilingan tebu pertama kali untuk tahun ini. Tak beda jauh dengan Sekaten yang diselenggarakan tiap tahunnya di alun-alun utara untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, pasar malam Cembeng pun dipenuhi oleh para penjual yang kebanyakan masih tradisional. Sebut saja para penjual kacang rebus yang masya Allah…simbah-simbah tua yang mungkin untuk berjalan saja kesulitan, untuk menghapal nama pun entah. Namun ketika aku iseng-iseng membeli dagangan mereka, aku bisa melihat kebanggaan di mata mereka. Bangga karena seusia itu masih bisa hidup dari tangan sendiri, dan aku pikir merekalah para kartini masa lalu di masa kini.

Aku selalu senang dengan hiburan “merakyat” seperti ini. Karena disini aku kembali bisa mengamati kebiasaan-kebiasaan dan tingkah laku masyarakat yang kebanyakan aneh-aneh, karena disini aku bisa kembali menyelami hiburan rakyat yang tak mewah namun mampu membahagiakan masyarakat terutama kalangan bawah. Tercengang melihat ibu-ibu berdandan menor, terpana melihat simbah-simbah mengenakan peci dan berpakaian rapi, sampai kaget menyaksikan berpasang-pasang muda mudi berpacaran di tengah keramaian yang ada. Oups, oalah oalah….

Dan di tengah keasyikanku mengamati keriuhan pasar malam dan menyaksikan panggung megah pagelaran wayang kulit, ponselku bordering, sms dari salah seorang sahabatku, “let’s go to the concert girl…Ada Band here.” Haha aku disini menanti pagelaran wayang kulit nan tradisional, namun ajakan konser juga tak jarang menggoyahkanku untuk menembus malam demi berlonjak-lonjak diiringi dentuman musik yang menggema. Tak sama kali ini, entah karena aku telah terbius aroma wayang atau ketertarikanku untuk mengamati segala yang ada di pasar malam ini, aku mengurungkan niatku untuk “Hall Party” malam ini. Hahahha..

Aku kini berdiri di samping panggung yang dihiasi megah dengan ornamen-ornamen klasik, dipenuhi dengan wayang-wayang kulit, dan gamelan-gamelan tua yang masih cukup kokoh beserta para penabuhnya. Tak ketinggalan para sinden yang telah duduk rapi “timpuh” dengan kebaya merah marun. Aduhailah pokoknya…ouwh, makin rame suasana. Penonton yang sebagian besar lanjut usia semakin banyak berdatangan. Menyenangkan dan tenang rasanya, wajah “45-an” menghiasi pasar malam ini. Membawa bekal, berpakaian rapi seolah akan ke kantor lurah, dan banyak lagi kebiasaan masyarakat dulu yang kutemui malam ini. Oh Jogja memang menyenangkan (+.+).

Capek berdiri dan merasa tidak paham akan cerita wayang yang sedang dimainkan dalang (bahkan judulnya pun aku tak tahu..hahha-dudul!), aku memutuskan untuk pulang. Namun sebelumnya, aku menutup petualanganku kali ini dengan kebiasaan yang terlalu terbiasa alias minum “wedang ronde” (sejarah wedang ronde akan ada bentar lagi. Hehehhe). Hmmmmmmmmm nikmat dan hangat…terima kasih Allah atas malam hebat ini…