Malam ini kembali kutelusuri jejak hidup bapakku. Ya, aku kembali ke suatu tempat lebih tepatnya pabrik dimana bapak dulu pernah mengabdikan lebih dari 25 tahun hidupnya. Dan aku bangga, ketika aku melihat tempat itu masih berdiri kokoh, dengan bau anehnya yang kadang memusingkan. Sebuah pabrik gula bersejarah di provinsi Yogyakarta, PG Madukismo, dengan para karyawannya yang terkenal “setia” layaknya para abdi dalem di keraton Yogyakarta. Maklumlah, perusahaan tua ini masih dianggap bagian dari keraton Yogyakarta walau bagaimana kenyataannya (kepemilikan saham_red) kini hanya sedikit orang yang tahu.
Sudah hampir 4 minggu, pabrik gula ini mengadakan selamatan untuk prosesi Giling yang dinamakan “Cembeng”. Nama yang cukup aneh, namun memiliki sejuta makna dimana pabrik akan melakukan penggilingan tebu pertama kali untuk tahun ini. Tak beda jauh dengan Sekaten yang diselenggarakan tiap tahunnya di alun-alun utara untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, pasar malam Cembeng pun dipenuhi oleh para penjual yang kebanyakan masih tradisional. Sebut saja para penjual kacang rebus yang masya Allah…simbah-simbah tua yang mungkin untuk berjalan saja kesulitan, untuk menghapal nama pun entah. Namun ketika aku iseng-iseng membeli dagangan mereka, aku bisa melihat kebanggaan di mata mereka. Bangga karena seusia itu masih bisa hidup dari tangan sendiri, dan aku pikir merekalah para kartini masa lalu di masa kini.
Aku selalu senang dengan hiburan “merakyat” seperti ini. Karena disini aku kembali bisa mengamati kebiasaan-kebiasaan dan tingkah laku masyarakat yang kebanyakan aneh-aneh, karena disini aku bisa kembali menyelami hiburan rakyat yang tak mewah namun mampu membahagiakan masyarakat terutama kalangan bawah. Tercengang melihat ibu-ibu berdandan menor, terpana melihat simbah-simbah mengenakan peci dan berpakaian rapi, sampai kaget menyaksikan berpasang-pasang muda mudi berpacaran di tengah keramaian yang ada. Oups, oalah oalah….
Dan di tengah keasyikanku mengamati keriuhan pasar malam dan menyaksikan panggung megah pagelaran wayang kulit, ponselku bordering, sms dari salah seorang sahabatku, “let’s go to the concert girl…Ada Band here.” Haha aku disini menanti pagelaran wayang kulit nan tradisional, namun ajakan konser juga tak jarang menggoyahkanku untuk menembus malam demi berlonjak-lonjak diiringi dentuman musik yang menggema. Tak sama kali ini, entah karena aku telah terbius aroma wayang atau ketertarikanku untuk mengamati segala yang ada di pasar malam ini, aku mengurungkan niatku untuk “Hall Party” malam ini. Hahahha..
Aku kini berdiri di samping panggung yang dihiasi megah dengan ornamen-ornamen klasik, dipenuhi dengan wayang-wayang kulit, dan gamelan-gamelan tua yang masih cukup kokoh beserta para penabuhnya. Tak ketinggalan para sinden yang telah duduk rapi “timpuh” dengan kebaya merah marun. Aduhailah pokoknya…ouwh, makin rame suasana. Penonton yang sebagian besar lanjut usia semakin banyak berdatangan. Menyenangkan dan tenang rasanya, wajah “45-an” menghiasi pasar malam ini. Membawa bekal, berpakaian rapi seolah akan ke kantor lurah, dan banyak lagi kebiasaan masyarakat dulu yang kutemui malam ini. Oh Jogja memang menyenangkan (+.+).
Capek berdiri dan merasa tidak paham akan cerita wayang yang sedang dimainkan dalang (bahkan judulnya pun aku tak tahu..hahha-dudul!), aku memutuskan untuk pulang. Namun sebelumnya, aku menutup petualanganku kali ini dengan kebiasaan yang terlalu terbiasa alias minum “wedang ronde” (sejarah wedang ronde akan ada bentar lagi. Hehehhe). Hmmmmmmmmm nikmat dan hangat…terima kasih Allah atas malam hebat ini…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar