Senin, 04 Maret 2013

Bapak :)

Dengan nama-Mu ya Allah saya merangkaikan kata demi kata untuk kalimat rindu padanya…

Allah, malam ini saya kembali tak bisa tidur..saya kembali mengalami kesulitan untuk sekedar memejamkan kedua mata ini…insomnia atau apalah itu saya tak tahu dan enggan untuk mengetahuinnya..

Allah, saya rindu..saya terlampau rindu padanya…pada seorang yang selalu membawa saya ke dunia penuh tawa, menjunjung saya menjadi dewasa untuk melihat betapa berwarna dunia..

Allah..tolong,saya rindu padanya…pada seorang lelaki hebat yang entah kenapa saya rasakan nyaman ketika berada di dekatnya, saya rasakan limpahan kedamaian ketika menatap wajahnya…
Dia bukan lelaki sempurna, namun dengan itu dia selalu berusaha mendekatkan dirinya pada-Mu
Dia hanyalah lelaki sederhana, yang tanpa lelah mengusap keringat menghidupi keluarganya
Walau saya tahu, rasa sakit itu menderanya, namun tak kuasa membuatnya menyerah begitu saja..

Allah, saya tahu dia sedih ketika saya menitikkan air mata setiap mengingatnya..
Saya tahu dia menangis ketika saya mengucap kata itu, kata bahwa saya tak sanggup ditinggalkannya Mengeluh kebahagiaan yang hilang bersamanya…
Dan saya tahu, dia tersenyum bahagia ketika saya tertawa, saya bercanda, dan berjalan tanpa beban…

Allah…tolong pertemukan kembali saya dengannya…dengan dia yang selalu ada di sudut hati, dia sang pendongeng ulung ketika mata saya hendak tertutup tiap malamnya…

Allah…saya mohon, mohon, dan memohon..berikan mimpi malam ini atau malam-malam berikutnya..untuk bertemu dia, untuk menjumpainya…Ayah…

~ditulis beberapa saat lalu, dimana kerinduan hebat itu kembali membuncah~

Kelas Inspirasi 2013

Saya hanya ingin menulis, merangkai kata, dan mendapatkan kalimatnya. Saya tak terlalu peduli pada tata bahasa, walau saya tahu itu melanggar etika. Hahaha

Kini, hanya ingin menulis, mengungkapkan apa yang ada di kepala saya. Ya, saya bahagia telah menjadi bagian darinya, dari Indonesia mengajar untuk mengikuti Kelas Inspirasi (KI). Menjadi guru sehari untuk menginspirasi anak-anak Indonesia tentang mimpi di masa depan, itulah tujuan utama KI.

Setelah proses seleksi, kami dikumpulkan dalam kelompok-kelompok dan dibagi ke sekolah-sekolah. Briefing yang menyenangkan, survey yang penuh tantangan, dan persiapan yang penuh semangat, membawa saya pada alam baru. Alam sosial, otak kanan yang dipergunakan dan bukan melulu otak kiri yang saya berdayakan. Hahaha…

Dan tibalah di hari Inspirasi, hari pelaksanaan dari segala yang kami sekelompok rencanakan. Bersama sekitar 11 orang hebat, saya melangkah mantap ke kelas-kelas itu. Kelas dimana anak-anak masa depan bangsa belajar. Ya, 20 Februari 2013, kami datang untuk menginspirasi murid-murid di SDN Rawa Badak Utara 11 pagi, Jakarta Utara. Inspirasi sederhana, tentang mimpi, tentang cita-cita, namun kami harapkan mampu berguna bagi mereka.

Polos, nakal, keingintahuan dan sebagian keras kepala, terpancar dari wajah-wajah mungil itu. Saya sangat menikmati perjalanan “mengajar sehari” ini. Mencoba berbagi mimpi, pengetahuan khususnya di bidang kefarmasian, ahhhh menyenangkan!

Dan sungguh di luar ekspektasi saya (dan tentunya kelompok saya), sambutan dari Kepala Sekolah, Guru-Guru, dan murid-murid SDN Rawa Badak Utara 11 pagi sungguh luar biasa. Mereka ramah, mendukung, dan antusias terhadap program ini. Dan puncaknya, kami disuguhi pentas Drumband dan tari-tarian India oleh murid disana. Ahhhh, saya terharu dan entah apa yang membuat saya sangat bahagia :)

Program KI memang luar biasa, dimotori oleh Bapak Anies Baswedan dengan dibantu para pengajar muda (mereka bikin saya iri-mengajar di pedalaman masih menjadi mimpi saya). KI mampu merangkul para professional untuk terjun langsung ke dunia pendidikan dan merasakan bagaimana susah senangnya menjadi guru.


Inilah salah satu pintu kita untuk urun rembug membenahi Indonesia. Inilah sepotong “kue solusi” bagian kita untuk kita ambil, cerna, lalu kita buang permasalahannya. Semoga saya selalu bisa menjadi bagian dari masyarakat yang peduli bukan menggerogoti, menebarkan energi positive bukan justru negative. Dan saya tidak ingin menjadi penonton di pinggiran, namun ikut turun tangan ;) (NI, 28 Feb 2013).

Rabu, 08 Desember 2010

SEPEDA OH SEPEDAAN




Seperti minggu-minggu sebelumnya, weekend ini saya buka dengan sepedaan atau bahasa ngetrend saat ini “gowes”, bisa dibilang juga “ngonthel” dalam bahasa jawa. Whatever it is (jadi ingat salah satu bos di kantor yang begitu hobi mengucapkan kalimat ini) apa sebutannya, yang jelas saat ini saya sedang kena wabah sepeda seperti sebagian orang Jakarta. Walau sebenarnya sepedaan merupakan rutinitas saya sewaktu masih berdomisili di Jogja. Namun berkat usaha keras saya (agak lebay) untuk membeli sepeda ini, akhirnya “kengileran” saya akan sepeda tersalurkan, folding bike ini berhasil saya beli!!!!

Dan seperti seminggu yang lalu, pagi ini saya menggowes sepeda bersama “kesendirian”. Ya, belum ada kawan di kos yang punya sepeda, belum ada minat lebih tepatnya. Okelah, tidak menjadi masalah buat saya. Sebelumnya, beberapa minggu lalu, saya sepedaan bersama salah seorang teman yang dikenalkan oleh teman saya yang dulunya dia itu dikenalkan pula oleh teman SMA saya (nah lho, saya sendiri bingung bagaimana menjelaskannya ;D). Namun, si mas ini sekarang lagi sibuk (mungkin) jadi kembalilah saya bersepeda dengan sendiri ;). Dan di saat seperti inilah, saya merasa kangen (agak lebay lagi ;D) bersepeda bersama Komandan dan Kopral saya sewaktu di Jogja. Mereka berdua yang lebih sering menyediakan waktu untuk ikut sepedaan bersama saya. Dari ujung satu ke ujung Jogja lainnya. Menyenangkan!!! Imogiri, Kota, Kulonprogo, bahkan ke wilayah pantai Selatan (untuk berkunjung ke salah satu dosen tercinta kami) pun pernah kami sambangi..hahahha, lagi-lagi kenangan di Jogja memang indah .

Oke, kita mulai dengan pilihan pagi ini. Arah Pulogadung, sebuah arah yang berlawanan dengan seminggu lalu. Entah kenapa, tiba-tiba saya ingin mengunjungi wilayah ini. Mungkin karena rasa penasaran saya akan “apa aja” yang ada di daerah ini. Maklumlah, 5 bulan hidup di Jakarta belum banyak tempat yang bisa saya kunjungi. Dengan program bersepeda setiap weekend, setidaknya saya berhasil menemukan jalur menuju beberapa lokasi di Jakarta ini.

Mulai menggowes sepeda, matahari sudah lumayan terik. Sudah resiko saya pikir, karena memang tadi saya bangun kesiangan dan menyempatkan untuk menulis terlebih dahulu. Kondisi jalan dari kos sampai di Arion mall masih saya hafal, hanya satu tambahan referensi tempat yang membuat “peta” Jakarta di otak saya semakin kaya. Satu tempat yang kemarin dicari teman kos dan kini saya tahu jawabannya. Semoga bisa membantu dia nanti. Saya meneruskan perjalanan saya ke arah Pulogadung, dan Wow!!! Saya sedikit terbelalak melihat apa yang ada di depan mata saya. Walaupun tak asing lagi dengan kedua organisasi ini, namun baru sekarang saya melihat dengan lebih seksama warna symbol dari keduanya.

Di sekitar jalan menuju terminal Pulogadung, ada sebuah partai yang memiliki kantor bersebelahan langsung dengan salah satu pemilik jasa pengiriman barang, kita sebut saja perusahaan T (hehehe). Partai ini seperti yang kita ketahui bersama (Aje gile bahasa aye) mempunyai warna lambang atau bendera lebih umumnya merah-putih-biru (hayo cobalah tebak kawan-kawan, partai apakah itu? ;D), dan hampir saja saya tak bisa membedakan mana yang kantor partai mana yang kantor si perusahaan T, karena kita juga pasti tahu jikalau si T pun punya warna symbol merah-putih-biru!!! Baru tersadar dan langsung saya ambil gambar keduanya..

Sebuah kombinasi warna symbol yang mirip atau bahkan sama menurut saya, entah apa maksud di balik itu. Namun jika dilihat dari sejarah siapa yang lebih dahulu memiliki warna symbol ini, sepengetahuan saya itu si T yang berdiri sekitar tahun 1990an. hmmmmmmmmmmmmm, semoga ada hal-hal positif yang ingin diambil si pendiri partai dari perusahaan T. Seperti yang telah diketahui khalayak umum (masya Allah dialektika saya..hehehe ;D) T merupakan akronim dari Titipan kilat yang menurut pemahaman saya sebagai usaha bagaimana mereka akan melakukan pengiriman cepat bahkan kilat dari pengirim ke penerima. So? Saya pikir sang pendiri partai ingin meniru bagaimana si T melaksanakan tugasnya yaitu cepat-kilat. Ya…walau menurut pendapat saya, sang pendiri kini lebih banyak atau sedang “lambat” dalam menjalankan fungsinya sebagai kepala Negara (oupssss..ketahuan dach ;( ). Kita lihat bagaimana reaksinya terhadap masalah-masalah di negeri ini, dari korupsi, penggelapan pajak, masalah per-bank-an, bahkan bencana, pemerintah terkesan tidak cepat apalagi kilat. Beliau yang kini malah sering mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang kontra dengan keinginan rakyatnya (Sebagai warga Jogja, saya masih ingat bagaimana dia berpidato tentang keistimewaan Jogja dengan kata-kata yang menurut saya sangat tidak sejalan dengan pemikiran para pendiri negeri ini). Entahlah, saya hanya berharap sang pemerintah segera sadar dan introspeksi bagaimana kinerja mereka selama ini. Amin…
Oke, kita sudahi dulu masalah politik ini, dan kita kembali ke sepedaan. Setelah mengambil gambar, saya langsung menggenjot kembali sepeda saya. sangat tercengang ketika akhirnya saya menemukan papan besar bertuliskan:

Saya heran, ternyata tempat ini begitu dekat dengan kos, kira-kira 30-40 menit perjalanan dengan sepeda (P.S : kondisi tidak macet ;D). kawasan yang sewaktu kuliah menjadi bahan pembicaraan karena memang beberapa perusahaan yang dicita-citakan ada disini. Huaaaaahhhh, namun rasa girang langsung berbalik hampir 1800 ketika saya mulai berjumpa dengan kontainer-kontainer besar, truk-truk yang menebarkan debu dengan sangat tidak sopannya. Hohoho..namun saya segera memaklumkan kondisi ini, bagaimana tidak, ini kawasan industry dan ya begini…. Huft, sangat dan teramat berbeda dengan kawasan menteng yang seminggu lalu saya jelajahi, tenang, tertata, bersih dan segar ;).
Namun, karena rasa penasaran yang kembali merajai otak, saya pun mulai memasuki distrik demi distrik. Dimulai dari salah satu perusahaan kosmetika, kemudian lanjut ke farmasi (dimana saya menemukan salah satu distributor perusahaan tempat saya bekerja ada di situ), perusahaan motor dan lain-lain. Saya begitu interest melihat bagaimana semuanya berjalan, melihat anak kecil bermain-main di tengah debu-debu jalan, kambing yang berkeliaran di dekat sebuah pabrik, sampai aktivitas penjual buah yang riuh dengan dagangannya. Hingga tepat ketika mobile phone saya berbunyi (telepon dari seorang kopral ;D), mata saya menangkap sebuah perusahaan yang dulu sangat saya impi-impikan…haha!!! Semoga akan menjadi kenyataan di tempat yang lebih baik. Amin.

Walau belum puas mengitari kawasan ini, saya memutuskan untuk segera pulang karena ada janji dengan kawan lama. Namun apa dikata, karena tidak berbekal peta dan papan petunjuk yang biasanya menjadi andalan ketika tersesat tidak bisa menjelaskan lokasi dmana saya kini berada, akhirnya saya lumayan lama berputar-putar di kawasan itu. Agak parno juga, namun Alhamdulillah berkat insting yang sedikit berjalan, saya berhasil menemukan pintu keluar. Hurray!!!
Dan begitulah pengalaman saya weekend ini bersama folding bike yang selalu diam dan pasrah kemanapun saya bawa pergi. Beberapa pelajaran yang saya dapat dari sepedaan kali ini:
1.Jangan mulai sepedaan terlalu siang, karena tangan akan “gosong” dan matahari menyengat-nyengat kulit hasilnya ;(
2.Mulailah “pintar” membaca peta dimanapun berada ;)
3.Saya tidak akan membesarkan anak saya (kelak) di kawasan industry karena masya Allah polusinya. Hehehehe
Sekian dan mari kita makan


=ditulis berdasar rekaman di Otak=
Jakarta, 04 Dec 2010

Minggu, 03 Oktober 2010

Hanya sebuah ungkapan kerinduan saya pada seorang sahabat terbaik saya, hanya itu...


Huft, entah telah berapa lm sy tak melihat “rumah”nya..entah berapa lama, saya tak mengunjungi dia…saya tega, saya jahat, dan saya bukan sahabat yang baik…(dan sgl yg buruk-buruk saya lontarkan untuk diri sendiri )

Allah, saya kangen dia..saya (begitu) rindu kepada sahabat saya itu, Liska..

1999
saya mulai mengenal dia, gadis kecil (seumuran saya) yang manis dan baik.
Liska, begitu bapak-ibunya memberi nama untuknya. Kami satu sekolah di SMP, dan saya mulai mengenal baik dia setelah hampir 1 tahun kami sekolah. Itupun karena ketidaksengajaan, bahkan kami tidak sekelas sewaktu itu. Masih begitu membekas, bagaimana kami berdua membuat janji untuk jadi sahabat baik sampai kami menua dan mati…di dekat toilet mushola…hehehhe,dasar anak kecil, kami memang masih polos sewaktu itu…

Kami berdua pun menjadi sahabat yang begitu dekat, masalah saya masalah dia, dan begitupun sebaliknya. Walaupun pada kenyataannya, dialah yang banyak bercerita, dia yang banyak mengeluhkan segala sesuatu pada saya. Tapi begitulah dia, dan begitulah saya waktu itu, kadang tidak tega melihat sahabat saya menitikkan air mata hanya untuk sekedar mendengarkan cerita saya…

Owh Allah, saya merindukan saat-saat itu

Terkadang pulang sekolah, saya mampir ke rumah dia, padahal arah rumah kami berlawanan, tapi sangat bukan menjadi masalah bagi kami. Liska, menjadi sesuatu yang berharga buat saya, sepeninggal bapak saya waktu itu, dia menjadi seperti semacam tempat saya berkeluh kesah. Begitupun saya pun bahagia, karena teman2 baiknya, ulfah, virsya, dan beberapa teman yang lain juga menjadi teman baik saya.

Hal yang paling membekas dari cerita kami adalah tentang seseorang, Choi begitu saja saya menyebutnya..(hehhe). Choi adalah lelaki muda yang sedari awal sudah mulai jatuh cinta pada sahabat saya. Bahkan di waktu masa orientasi, lelaki ini menanyakan nama Liska pada saya (suatu kebetulan yang tidak disangka pada akhirnya saya menjadi mak comblang mereka ;D). walau hub mereka agak ditentang kedua ortu Liska (masalah klasik-Liska masih kecil, belum boleh pacaran), namun saya dengan gigih mencari cara agar mereka bisa bersama (Bu Titik dan pak Pur, maafkan nurul ya, bandel memang).
Sampai-sampai setiap saya ke rumah Liska, bapak-ibunya menyebut saya Mak comblangnya ni..hehhehe (tapi Alhamdulillah, walo saya bandel, Bapak-ibu Liska pun menganggap saya anak mereka).

Liska, begitu dia masih membekas di pikiran saya. Kami bersama sama ikut Tonti di Kelas 1 SMP, kami sama-sama ikut drumband di kelas 2&3, jadi pengurus OSIS, bahkan setiap ada acara, ketika salah satu dari kami diminta jadi MC, maka salah satunya pun MC. Hehehehe…Les bareng, mbolos les-pun selalu bareng…hahha
Liska, akhirnya saya berpisah sekolah dengannya ketika memasuki SMA. Namun, dia masih bersama dengan kekasihnya, Choi. Dan saya dengar hubungan mereka membaik di SMA. Ah…saya yang masih menyesal. Karena di SMA, kami jarang berinteraksi, sibuk dengan sekolah masing-masing. Namun begitu, kami masih saling terus mengunjungi, saling memberi kado setiap ultah kami..dan saling cerita setiap kami ada masalah.
Sampai pada akhirnya saya dan dia memasuki bangku perkuliahan. Dia pun ingin masuk di fakultas yang sama dengan cita-cita saya. Namun, dia keterima di fakultas lain. Tak apa, karena ternyata jarak antara kampus kami tidak jauh. Sayangnya, dan sangat saya sesalkan, kami tidak intens berkomunikasi dan justru saya makin larut dengan kegiatan di kampus saya. Dia pun begitu. Hanya sesekali kami pergi berdua.

Di ulang tahun saya yang ke 19 dia memberikan kepada saya kado (seperti biasa) special, sebuah bantal yang dia buat sendiri. Namun anehnya di ultah saya itu, dia sekaligus memberikan fotonya kepada saya. Dia bilang “buat kamu Rul, biar kamu selalu inget aku…simpen baik-baik ya…semoga kamu panjang umur”. Ya Allah saya tak bisa menahan air mata saya… saya tak mengira itu seperti pertanda dari-Mu bahwa Kau akan segera mengambilnya...

Dan begitu sangat saya ingat, saat itulah, moment terakhir saya pergi bersamanya. Dia meminta saya menemaninya dan memilihkan kosmetika yang cocok buat wajahnya (diam-diam saya jadi konsultan kosmetik buatnya.. , karena dia keseringan bermasalah dengan jerawat. hehehe ). Saya tak mengira itulah saat terakhir saya bersamanya...

2006
Dan Ya Rabb, begitupun saya terguncang dengan gempa yang menimpa Jogja dan sekitarnya, saya lebih terguncang dan hampir pingsan ketika Pipit (salah seorang sahabat saya di SMP dan SMA)datang ke rumah dan mengabari bahwa Liska menjadi salah satu korban gempa…ya Rabb..kenapa? kenapa begitu cepat Kau ambil dia..
dan apakah saya seorang sahabat yang baik ketika tak menghadiri pemakamannya? Bukan, bukan karena kesedihan saya, tapi karena perintah ibu yang melarang saya bepergian, yang tak ingin saya jauh-jauh darinya pasca gempa itu..Allah…ampuni saya…

Saya pun berjanji bahwa semua sms dia, tak akan satupun saya hapus sampai kapanpun
(walau pada akhirnya semua inbox saya ter’delete” karena kecerobohan saya- saya ingat betapa saya menyesali hal ini berhari2 & terus mencari gimana cara untuk mengembalikan semua inbox saya).

P.S. : pernah beberapa kali, saking rindunya saya padanya, saya menghubungi no.hpnya.
saya tak berharap banyak untuk bisa diangkat..(hehehe), tapi suatu ketika saya mendial up no.nya dan diangkat...(hah??!!) saya kaget dan (Sedikit) takut. tapi ternyata no. tsb telah dimiliki oleh ibu2. aneh saya pikir, bagaimana bisa..tapi yasudah..saya harus mengikhlaskannya..


Dan hari-hari baru pun dimulai, hari baru saya tanpanya, hari baru tanpa sms dari dia, hari baru tanpa ceritanya…

Dan kini, Liska, Nurul ada disini, Nurul sedang berjuang mendapatkan mimpi dan cita-cita..
Liska, Kau tak akan pernah hilang dari ingatan saya. Kau selalu di hati Saudariku.
Maaf ya, lama tak berkunjung ke makammu..maaf, lama tak mengunjungi Bapak-ibu, dan adikmu…
Allah, mohon lindungi dia, mohon jauhkan dia dari segala siksa, sayangi dia…dan mohon sampaikan salam rindu, dan maaf hamba untuknya…
Allah, kuatkan kami, lindungi kami, Nurul mohon…

Special buat sahabat-sahabatku : Febti, Virsya, Ulfah,pipit, Arif, Redy, Adit, Topix, ilham, Miqdam, dll yang tak bisa saya sebutkan satu persatu…
Tolong jenguk makam dia (bagi yang masih di Jogja), tolong doakan dia,,,
Dan tolong, jangan kita saling melupakan, mari saling mendukung dan mendoakan
Jujur, Saya pun sangat kangen kalian,,


Jakarta, 03 Oktober 2010
=saat hujan turus dengan derasnya=

Jumat, 03 September 2010

Catatan di tengah pekerjaan saya sedang menunggu untuk dikerjakan….=)

Jakarta, August, 24th 2010
Saya kangen,
Terlalu kangen pada masa-masa itu

Masa-masa SD

Ya dimana saya masih sering dimanja Bapak saya, masa dimana saya masih bisa merasakan punya orang tua yang utuh, masa dimana nilai Raport saya selalu no.1 di kelas..hahahah...agak sombong memang.wew...But, di masa-masa itulah saya mulai harus belajar dewasa. Bapak yang mulai sering masuk-keluar RS karena penyakitnya.huft..masa-masa indah saya bersamanya sangatlah tidak lama. Dan..itulah kehendak-Nya, Allah ampuni dan sayangi dia...

Dan tibalah saya di saat pra remaja..
masa SMP

Saat dimana saya mulai merasakan cinta monyet..hahahha..(tapi sayangnya saya lupa dengan siapa saya jatuh cinta?? Wkwkw), saat dimana saya menemukan sahabat-sahabat baik saya yang sampai sekarang alhamdulillah masih terus terjalin. Hei kalian, Adit, Topix, Arief, Febty, Redy, Dara, Ulfah, dan sederet nama lainnya yang masih sangat saya ingat benar-benar di benak saya, pa kabar oi???? Terutama, especially, dan khususnya Almarhumah sahabatku tersayang, Liska...apa kabar sobat??? Lama kita tak bertemu dalam mimpi...huft...ya, saya kehilangan dia. Dia yang menjadi tempat saya berbagi cerita, dan apa saja (tapi tidak berbagi pacar..hahha). Dia yang memberi predikat pada saya ”mak comblang” karena saya bertekad untuk menyatukan cintanya dengan sang pangerannya (Arief_red....hehe). namun, setelah kedua belah pihak menyetujui hubungan mereka, 4 tahun yang lalu Allah harus mengambilnya dari dunia ini....Allah, maafkan dia...
Sangat jelas dalam benak saya, betapa saya menikmati saat-saat itu. Ikut Tonti, drumband, sampai Jambore yang menyenangkan...huft..terlalu indah untuk saya lupakan begitu saja.

Masa-masa SMA
Ini dia masa pencarian saya...hoho..saya menemukan ”what i want and thats what friend are for”….
Yippppppppppppiiiiiii…dapet sekolah di SMA ternama di Yogyakarta, dan saya harus berusaha keras untuk sekedar memasukkan nama saya di sepuluh besar kelas saya..hoho…nilai pas-pas’an (banyak temennya), baju seragam paling dikit pengikutnya (hai putri, tya, rini_kelas 1_red), dan pada akhirnya tersisa saya dan putri kami yang menggunakan bentuk seragam yang sama (hahai-diledekin mulu ma guru tercinta kita itu).
Tapi disinilah saya menemukan teman-teman terbaik saya. Yang selalu siap berbagi kapan saja...dan tentunya dengan cerita hidup kami yang berbeda.hoho...
Disinilah saya menemukan, betapa hidup penuh berwarna, betapa hidup tak bisa dijalani jika kita sendiri. karena itulah, teman-teman sangat saya butuhkan...Tya, Trusti, wiwin, Putri, avi, Novi....ugh,..kangen kalian...

Kelas 1.3 : anak-anaknya rajin, pinter, dan otak cowok-cowoknya bikin mati kutu,,,ranking di kelas keseringan 7 diantara 10 itu cowok...huwaaaaaaaaaaaaaa..but, gpp yang penting saya sudah berusaha..hehe.
Dan di waktu kelas ini, saya mengalami pengalaman pergi jauh bersama sahabat-sahabat saya (trusti, putri, tya, avi, wisnu, bapak nophal, anom, cahyo, didit, mmmm sapa meneh ya???) (padahal Cuma ke pantai Baron-Gunkid_heheh) dan mulailah saya menggemari yang namanya ”taekwondo” hhoiiiiiiiihihi

Kelas2.5 : yach..kami diacak. Tapi di klas ini juga sama gilanya. Ketua kelas yang ”piktor” (hahha), wakil ketua kelas yang baik dan manis (hahaha), dan teman-teman yang sukanya berjamaah kalo berbuat penyelewengan di kelas. Contoh kecilnya sich,,,makan pilus pas akuntansi, nyontek waktu ulangan sejarah, makan kwaci pas pelajaran apa gitu...hahah..sungguh saya tak percaya, saya pernah melewati masa-masa itu bersama kalian...dan yang paling saya ingat, Tragedi ”Kapur merah dan Tulisan tangan saya di Papan tulis yang kegedean”..disemprot guru bahasa yang berujung pada perdebatan sengit antara saya dengan beliau...(bu, mohon maafkan saya...^^)

Kelas IPA 3 : yiiiiiiiiihaaaaa..saya kembali bersama teman-teman saya...walo sebagian kecil masuk IPS tapi tetap menyenangkan dengan kompetisi yang membuat badan saya makin kurus..heheheh
Saya menemukan arti sebuah kerja keras. Masuk pagi (06.30 am) tiap hari, les pulang sekolah, ngerjain soal segunung..dsb...yang kadang membuat saya berpikir kok bisa gitu?? Hoooohoh..tapi saya menikmatinya. Karena kami tak lupa menyempatkan waktu untuk bertamasya...ingatkah kawan, Gua Cermai, Kedung Kayang..pernah kita jelajahi bersama..so wonderfull...saya kangen kalian semua...
Dan akhirnya kita harus berpisah (walo sebagian besar Cuma beda fakultas...hahah), setelah 3 tahun menggila di SMA....menggila dengan upacara militer ala pak ”Z”, mengenddap-endap setiap terlambat karena bu ”E” siap sedia di depan sekolah, dan sembunyi-sembunyi memakai sepatu non pantofel dari pandangan pak ”S”...hahhaha


Masa Kuliah
2005...Huaaaaaaaaaaaaa tanpa saya sadari, saya sudah menjadi mahasiswa euy!!! Sangat menyenangkan ketika sekolah tak harus pakai seragam, sangat membingungkan ketika disuruh cari buku dan literature sendiri, dan sangat mendebarkan ketika harus mengikuti masa orientasi...saya pun tak sengaja menjadi ”manusia vokal” di kampuz. Suka tanya, suka protes, dan suka-suka yang lain berhubungan dengan yang namanya ”kecerewetan”..haha..maafkan saya bapak-ibu dosen, kawan-kawan, saya memang begini adanya....
Ikut banyak kegiatan dari mulai BEM, sampai persma tak menyurutkan langkah saya untuk mendapatkan nilai yang baek (plok plok plok). Bagaimana lagi, niat semula yang ingin jadi mahasiswa SO (maaf bukan sintesis organik karena nilai saya cukup mengerikan di transkrip untuk makul ini-hehe) pun tak jadi saya jalankan, karena saya terlalu hiperaktif, loncat kesana kemari, senyum sana sini (supel gitu lhoh_wkwkkwkw) dan aktivitas-aktivitas gila saya laennya, termasuk cari berita sampai tengah malam untuk majalah atau begadang bersama-sama teman se-jurusan Farmasi Industri di tempat yang berbeda, saling misscalled agar tetap saling terjaga untuk menyelesaikan laporan praktikum yang menggila..pima, verda, bang ryo, bang myki, ocha, adit prof dunk-dunk , nepong syallala, dll yang tak bisa saya sebutkan satu persatu...kalian sangat telah mewarnai masa-masa saya di kampuz...huwwwwwwwwwwwaaaaaaaaaaaa pengen nangis kalo inget itu semua...kuangen....

Masa-masa KKN bersama teman lain fakultas, pun menorehkan kenangan indah pada hidup saya. Hidup bersama anak-anak panti asuhan korban gempa jogja 2006 sungguh merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Menemukan keluarga baru (putri, hari, eci, dkk,,,how r u kawans????), kenal ma buaya (huatching.....pergilah kau!! Hahha piss), sampai guru-guru berpetuah ala yoga, iyang, dll...hahaha...miss u all...

Dan tibalah saatnya saya dan teman-teman harus fokus pada tugas akhir kami masing-masing. Sibuk ngelab bareng wono, nyusun skripsi, pendadaran, dan sidang seminar..pfuh..tak terasa itu semua sudah kita lewati kawan...dan Agustus 2009 (tanggal 26 kalo gak salah) kita dinyatakan LULUS SARJANA FARMASI...yihaaaaaaaa

=Dan beruntungnya saya,,,setelah pencarian saya sekian lama,,saya menemukanya kembali ...di tengah usaha saya menyelesaikan tugas akhir. saya menemukan lelaki itu, ARP. lelaki baik, pengertian, lucu dan imut (hihiii), dan tentunya mau menerima saya apa adanya.dia yang dulu pernah saya kenal ketika di bangku SMA namun kurang akrab karena kesibukannya bermain sepatu roda. hehehe..uhf...saya menyayanginya...sungguh...walo kami sering berantem tentunya...hehehe. maklumlah, kami LDR dari awal sampai saat ini juga, dia disana, saya disini..hehe..but alhamdulillah..Allah melancarkan hubungan kami..amin...=

Masa-masa kuliah profesi..
Disini saya harus melepas semua atribut ”kecowokan” saya. Mulai dari celana jins, sepatu-sepatu kets, sampai kaos-kaos saya yang imut-imut (heheh). Kuliah dengan celana/rok kain, baju rapi, sampai sepatu cantik membawa perubahan pada diri saya :lebih feminim..hahahhaha, walo kelakuan tetap aja sama. Gak bisa diem,, suka lari-lari...huft. Di saat ini pula saya menemukan komunitas baru yang sudah saya anggap saudara-saudara saya sendiri. Komandan Ari dan Kopral Topan. Mereka mengajak saya ke dunia lain (bukan dunia hantu tapi =p), dunia bermain-main dan mencari uang ala kami...bikin sabun di lab sederhana, sepedaan mpe ujung-ujung jogja (huhuhuhuu kangen sungguh saya), dan banyak lainnya...terima kasih kalian dah mau saya ajak berbagi dan menggila...hehe

Satu semester saya kuliah di profesi, sering dan terlalu sering menahan kantuk tiap kuliah. Hafalan, hafalan dan hafalan...wuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...saya kurang gimana gitu...tapi alhamdulillah itu menambah pundi ilmu yang banyak buat saya...
PKPA di semester 2 yang alhamdulillah menyenangkan...2 bulan di PMA yang merupakan wonderfull experience buatku. Menemukan guru-guru baru (Bu Upi....miss u), sahabat-sahabat baru (desy, iis, rhandy, resty, syula, ria, dll), kakak-kakak baru (mb elin, mb mirna, mas anton...kangen) sampai ”Bapak baru” (pak Daddy terima kasih buat doanya)
1 bulan di apotek depan kantor KR di jogja (hehhe), disitu juga saya menemukan banyak kegilaan...jaga apotek sambil ngerumpi, ngangkring bareng, sampai rame-rame ke nikahan sang APA...hehehe miss u all guys (woi ina, vita, yani, dll.......pa kabar oi!!!!)

Dan tibalah saatnya, 19 Juli 2010, saya harus berangkat mengejar cita saya...mulai bekerja,,,,padahal belum dinyatakan lulus Apt..heheh. saya kegirangan menerima panggilan-panggilan itu (ada 2 panggilan pekerjaan, tapi saya harus melepaskan salah satunya-hukz). Sedih tetap ada tentunya, saya harus meninggalkan kampung halaman saya, esp ”mbok uo. Ku” (eyang putri saya) yang selalu mengunjungi saya tiap pagi, hanya untuk sekedar memastikan saya pulang ke rumah..hahahha...owh miss u my grandma...

And the next, Agustus 2010 tepatnya tanggal 5....saya dan teman-teman disumpah Apoteker...huhuhu..sedih bercampur gembira...perjuangan kami membuahkan kebanggaan bagi orang tua kami masing-masing....BAPAK....\\

Dan disinilah saya saat ini, di sebuah perusahaan swasta di Indonesia. Dimana pekerjaan menunggu-nunggu saya untuk menggarapnya..tempat dimana saat ini saya berusaha menemukan masa depan saya...Allah bantu hamba...

Dan kawan-kawanku semua....sampai jumpa, selamat berkarya, dan maafkan semua kesalahan saya....semoga kita segera bertemu kembali dengan kondisi yang sangat lebih baik...selamat menggenggam masa depan kalian....selamat mengepakkan sayap kalian...kapanpun, saya tetap sahabat kalian. Hubungi saya, tetap kita jalin persahabatan indah walo kita telah berpencar di segala penjuru dunia.
Salam rindu, peluk hangat, dan sukses dari saya

=Nurul yang keseringan kalian panggil Nunz/ Nunink= ^__________^

Sabtu, 24 April 2010

punahnya sebuah generasi


Punahnya sebuah generasi?

Hei kaum perempuan? Pa kabar semuanya….masihkah kalian gencar dengan feminisme? Apakah kalian masih ingin mempertahankan semboyan “2 anak cukup”? atau bahkan mungkin “gak perlu dech punya anak, bikin repot saja”. Huft lagi-lagi tuntutan karier memaksa seorang wanita memutuskan untuk tak punya anak, lebih parah lagi : tak menikah!!!

Tulisan ini, terinspirasi oleh perjalananku hari ini. Ya, hari ini aku kembali mengunjungi sahabat-sahabat lama (ayah)ku. Aku kangen masa kecilku, itulah kenapa aku memutuskan membelah kota jogja hari ini. Memacu motorku dari ujung utara ke selatan kota ini.

Alkisah bapak punya sahabat, seorang kakek abdi dalem di keraton Jogjakarta,yang kini juga telah tiada. Simbah, begitu aku memanggilnya, memiliki seorang istri yang baru aku tahu merupakan istri keempatnya. Wow????!!! Dan sepeninggal simbah, istrinya hanya seorang diri menghuni rumah yang (masya Allah) berada di suatu di daerah terpencil di kota B. Tiap kali aku kesana, akan selalu ada perasaan was-was, apakah ban motorku masih baik-baik saja. Maklum, tempat tinggal simbah ada di bukit kecil yang belum dirambah aspal. Alhasil aku harus mengendarai motorku di atas batu-batu yang lumayan gede bin tajam. Begitupun siang ini, setelah melalui perjalanan yang cukup membuat-maaf-my ass-puanas (hheheheh,), sampailah aku di depan rumah tua di pinggir sebuah makam tua bin besar…srrrrrrrrrrrr…agak horror juga siang-siang. Kulangkahkan kaki, berharap simbah putri menyambutku bersama kucing-kucing peliharaannya. Tapi, sampai aku menelusuri halaman berdebu itu tak kutemui simbah maupun ayam dan kucing-kucingnya. Duh…perasaanku tambah gak enak. Maklum rumah tua ini merupakan rumah satu-satunya di bukit kecil ini. Jarak dari tetangga terdekat memakan waktu sekitar 10 menit berjalan kaki. Selain dikelilingi hutan kecil, sebelum masuk halaman rumah, aku harus melewati tanjakan yang langsung berhadapan dengan kuburan tua…huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…but karena tekadku bulat, aku terus berjalan celingukan sampai ke bagian rumah paling timur. Masya Allah, tergembok kuat. Aku masuk ke pendopo, tak ada tanda-tanda kehidupan. Aku ke teras bagian depan, semua kursi, foto-foto simbah tak ada lagi. Ya Allah, kemana simbah putri yang kini kesepian diri itu???

Pertanyaanku terjawab sudah, setelah aku turun bukit, aku bertemu seorang lelaki tua di depan makam. Kata kakek tua itu, simbah telah pindah ke kampong halamannya di kota S. Oh Tuhan, baru kutahu, kalo simbah putri ini adalah putri tunggal di keluarganya dulu. Setelah menikah, ternyata simbah harus menerima kenyataan bahwa beliau tidak bisa punya anak. Karena itu juga, beliau diceraikan oleh suami pertamanya yang seorang guru. Walau begitu, simbah putri akhirnya dinikahi simbah (sahabat ayahku itu) dan dijadikan istri keempatnya (hauo poligami??? Kurang tahu aku). Seperti halnya sinetron-sinetron di tipi-tipi, ternyata putra-putri tirinya tak menerimanya. Alhasil sampai simbah meninggal, simbah putri hanya tinggal berdua di rumah tua itu bersama simbah.

Dan setelah simbah meninggal tahun 2007, simbah putrid hanya tinggal sendirian bersama peliharaannya di rumah tua itu. Tanpa ANAK, tanpa SAUDARA!! Masya Allah, aku pun tak mau membayangkan kesepian yang setiap saat menghinggapi simbah putri. Untungnya, walau jarang, beberapa kerabat jauhnya masih sering menengoknya. Akupun demikian, walau tak ada pertalian darah sedikitpun, namun aku punya janji pada diri sendiri bahwa aku tak ingin membiarkannya kesepian, sebisa mungkin aku akan mengunjunginya. Sekedar memastikan beliau baik-baik saja. Namun, kesibukan kuliah memaksaku untuk lama tak menjenguknya. Bahkan 2 bulan lalu, beliau menelponku untuk mengunjunginya. But, aku lagi-lagi harus menolaknya…

Dan kini aku memacu motorku ke rumah simbah. Berbekal petunjuk dari tetangga beliau, aku nekat pergi ke tempat yang mungkin seumur hidupku aku belum pernah menjamahnya. Sebuah daerah di ujung selatan provinsi Jogjakarta. Aku ingin melihat beliau, aku kangen pada beliau yang dulu sering mendengar keluh kesahku ketika aku kangen bapak, yang selalu memberiku nasehat ketika aku berbeda pendapat dengan ibuku, yang selalu menenangkanku jika aku punya masalah apapun itu. Allah, ijinkan aku menemui wanita tua itu. Wanita yang tegar mendampingi simbah selama 30 tahun, wanita yang harus menerima kenyataan bahwa generasi keluarganya harus terputus setelah dia karena ketidakmampuannya memiliki putra…

Dan Alhamdulillah…aku menemukannya…senyum lebar itu masih ada, tubuh lemah itu masih kuat memelukku, dan tak terasa air mataku menetes karenanya…

Huft…begitulah hariku hari ini. Kembali tersadar, bahwa aku tak boleh egois memikirkan duniaku sendiri, kembali mengingat, bahwa banyak orang yang ingin kita bahagiakan walau hanya dengan sebuah “kunjungan”. Aku pun kembali memaknai kodratku, tak akan egois memikirkan karierku sendiri tapi juga calon keluargaku kelak (wwkwkkwkwkwkkw---berat berat =p)

Dan tiba-tiba aku teringat ketika seorang teman bertanya: “mo punya anak berapa besok?”(hahahhahah). Sepertinya jawabanku kini: ” agak banyak dech, biar gak kesepian” wwkwkkwkwkwk..pikirkan lagi kawan…^^

malam Hangat di Hiburan rakyat

Malam ini kembali kutelusuri jejak hidup bapakku. Ya, aku kembali ke suatu tempat lebih tepatnya pabrik dimana bapak dulu pernah mengabdikan lebih dari 25 tahun hidupnya. Dan aku bangga, ketika aku melihat tempat itu masih berdiri kokoh, dengan bau anehnya yang kadang memusingkan. Sebuah pabrik gula bersejarah di provinsi Yogyakarta, PG Madukismo, dengan para karyawannya yang terkenal “setia” layaknya para abdi dalem di keraton Yogyakarta. Maklumlah, perusahaan tua ini masih dianggap bagian dari keraton Yogyakarta walau bagaimana kenyataannya (kepemilikan saham_red) kini hanya sedikit orang yang tahu.

Sudah hampir 4 minggu, pabrik gula ini mengadakan selamatan untuk prosesi Giling yang dinamakan “Cembeng”. Nama yang cukup aneh, namun memiliki sejuta makna dimana pabrik akan melakukan penggilingan tebu pertama kali untuk tahun ini. Tak beda jauh dengan Sekaten yang diselenggarakan tiap tahunnya di alun-alun utara untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, pasar malam Cembeng pun dipenuhi oleh para penjual yang kebanyakan masih tradisional. Sebut saja para penjual kacang rebus yang masya Allah…simbah-simbah tua yang mungkin untuk berjalan saja kesulitan, untuk menghapal nama pun entah. Namun ketika aku iseng-iseng membeli dagangan mereka, aku bisa melihat kebanggaan di mata mereka. Bangga karena seusia itu masih bisa hidup dari tangan sendiri, dan aku pikir merekalah para kartini masa lalu di masa kini.

Aku selalu senang dengan hiburan “merakyat” seperti ini. Karena disini aku kembali bisa mengamati kebiasaan-kebiasaan dan tingkah laku masyarakat yang kebanyakan aneh-aneh, karena disini aku bisa kembali menyelami hiburan rakyat yang tak mewah namun mampu membahagiakan masyarakat terutama kalangan bawah. Tercengang melihat ibu-ibu berdandan menor, terpana melihat simbah-simbah mengenakan peci dan berpakaian rapi, sampai kaget menyaksikan berpasang-pasang muda mudi berpacaran di tengah keramaian yang ada. Oups, oalah oalah….

Dan di tengah keasyikanku mengamati keriuhan pasar malam dan menyaksikan panggung megah pagelaran wayang kulit, ponselku bordering, sms dari salah seorang sahabatku, “let’s go to the concert girl…Ada Band here.” Haha aku disini menanti pagelaran wayang kulit nan tradisional, namun ajakan konser juga tak jarang menggoyahkanku untuk menembus malam demi berlonjak-lonjak diiringi dentuman musik yang menggema. Tak sama kali ini, entah karena aku telah terbius aroma wayang atau ketertarikanku untuk mengamati segala yang ada di pasar malam ini, aku mengurungkan niatku untuk “Hall Party” malam ini. Hahahha..

Aku kini berdiri di samping panggung yang dihiasi megah dengan ornamen-ornamen klasik, dipenuhi dengan wayang-wayang kulit, dan gamelan-gamelan tua yang masih cukup kokoh beserta para penabuhnya. Tak ketinggalan para sinden yang telah duduk rapi “timpuh” dengan kebaya merah marun. Aduhailah pokoknya…ouwh, makin rame suasana. Penonton yang sebagian besar lanjut usia semakin banyak berdatangan. Menyenangkan dan tenang rasanya, wajah “45-an” menghiasi pasar malam ini. Membawa bekal, berpakaian rapi seolah akan ke kantor lurah, dan banyak lagi kebiasaan masyarakat dulu yang kutemui malam ini. Oh Jogja memang menyenangkan (+.+).

Capek berdiri dan merasa tidak paham akan cerita wayang yang sedang dimainkan dalang (bahkan judulnya pun aku tak tahu..hahha-dudul!), aku memutuskan untuk pulang. Namun sebelumnya, aku menutup petualanganku kali ini dengan kebiasaan yang terlalu terbiasa alias minum “wedang ronde” (sejarah wedang ronde akan ada bentar lagi. Hehehhe). Hmmmmmmmmm nikmat dan hangat…terima kasih Allah atas malam hebat ini…