Minggu, 03 Oktober 2010

Hanya sebuah ungkapan kerinduan saya pada seorang sahabat terbaik saya, hanya itu...


Huft, entah telah berapa lm sy tak melihat “rumah”nya..entah berapa lama, saya tak mengunjungi dia…saya tega, saya jahat, dan saya bukan sahabat yang baik…(dan sgl yg buruk-buruk saya lontarkan untuk diri sendiri )

Allah, saya kangen dia..saya (begitu) rindu kepada sahabat saya itu, Liska..

1999
saya mulai mengenal dia, gadis kecil (seumuran saya) yang manis dan baik.
Liska, begitu bapak-ibunya memberi nama untuknya. Kami satu sekolah di SMP, dan saya mulai mengenal baik dia setelah hampir 1 tahun kami sekolah. Itupun karena ketidaksengajaan, bahkan kami tidak sekelas sewaktu itu. Masih begitu membekas, bagaimana kami berdua membuat janji untuk jadi sahabat baik sampai kami menua dan mati…di dekat toilet mushola…hehehhe,dasar anak kecil, kami memang masih polos sewaktu itu…

Kami berdua pun menjadi sahabat yang begitu dekat, masalah saya masalah dia, dan begitupun sebaliknya. Walaupun pada kenyataannya, dialah yang banyak bercerita, dia yang banyak mengeluhkan segala sesuatu pada saya. Tapi begitulah dia, dan begitulah saya waktu itu, kadang tidak tega melihat sahabat saya menitikkan air mata hanya untuk sekedar mendengarkan cerita saya…

Owh Allah, saya merindukan saat-saat itu

Terkadang pulang sekolah, saya mampir ke rumah dia, padahal arah rumah kami berlawanan, tapi sangat bukan menjadi masalah bagi kami. Liska, menjadi sesuatu yang berharga buat saya, sepeninggal bapak saya waktu itu, dia menjadi seperti semacam tempat saya berkeluh kesah. Begitupun saya pun bahagia, karena teman2 baiknya, ulfah, virsya, dan beberapa teman yang lain juga menjadi teman baik saya.

Hal yang paling membekas dari cerita kami adalah tentang seseorang, Choi begitu saja saya menyebutnya..(hehhe). Choi adalah lelaki muda yang sedari awal sudah mulai jatuh cinta pada sahabat saya. Bahkan di waktu masa orientasi, lelaki ini menanyakan nama Liska pada saya (suatu kebetulan yang tidak disangka pada akhirnya saya menjadi mak comblang mereka ;D). walau hub mereka agak ditentang kedua ortu Liska (masalah klasik-Liska masih kecil, belum boleh pacaran), namun saya dengan gigih mencari cara agar mereka bisa bersama (Bu Titik dan pak Pur, maafkan nurul ya, bandel memang).
Sampai-sampai setiap saya ke rumah Liska, bapak-ibunya menyebut saya Mak comblangnya ni..hehhehe (tapi Alhamdulillah, walo saya bandel, Bapak-ibu Liska pun menganggap saya anak mereka).

Liska, begitu dia masih membekas di pikiran saya. Kami bersama sama ikut Tonti di Kelas 1 SMP, kami sama-sama ikut drumband di kelas 2&3, jadi pengurus OSIS, bahkan setiap ada acara, ketika salah satu dari kami diminta jadi MC, maka salah satunya pun MC. Hehehehe…Les bareng, mbolos les-pun selalu bareng…hahha
Liska, akhirnya saya berpisah sekolah dengannya ketika memasuki SMA. Namun, dia masih bersama dengan kekasihnya, Choi. Dan saya dengar hubungan mereka membaik di SMA. Ah…saya yang masih menyesal. Karena di SMA, kami jarang berinteraksi, sibuk dengan sekolah masing-masing. Namun begitu, kami masih saling terus mengunjungi, saling memberi kado setiap ultah kami..dan saling cerita setiap kami ada masalah.
Sampai pada akhirnya saya dan dia memasuki bangku perkuliahan. Dia pun ingin masuk di fakultas yang sama dengan cita-cita saya. Namun, dia keterima di fakultas lain. Tak apa, karena ternyata jarak antara kampus kami tidak jauh. Sayangnya, dan sangat saya sesalkan, kami tidak intens berkomunikasi dan justru saya makin larut dengan kegiatan di kampus saya. Dia pun begitu. Hanya sesekali kami pergi berdua.

Di ulang tahun saya yang ke 19 dia memberikan kepada saya kado (seperti biasa) special, sebuah bantal yang dia buat sendiri. Namun anehnya di ultah saya itu, dia sekaligus memberikan fotonya kepada saya. Dia bilang “buat kamu Rul, biar kamu selalu inget aku…simpen baik-baik ya…semoga kamu panjang umur”. Ya Allah saya tak bisa menahan air mata saya… saya tak mengira itu seperti pertanda dari-Mu bahwa Kau akan segera mengambilnya...

Dan begitu sangat saya ingat, saat itulah, moment terakhir saya pergi bersamanya. Dia meminta saya menemaninya dan memilihkan kosmetika yang cocok buat wajahnya (diam-diam saya jadi konsultan kosmetik buatnya.. , karena dia keseringan bermasalah dengan jerawat. hehehe ). Saya tak mengira itulah saat terakhir saya bersamanya...

2006
Dan Ya Rabb, begitupun saya terguncang dengan gempa yang menimpa Jogja dan sekitarnya, saya lebih terguncang dan hampir pingsan ketika Pipit (salah seorang sahabat saya di SMP dan SMA)datang ke rumah dan mengabari bahwa Liska menjadi salah satu korban gempa…ya Rabb..kenapa? kenapa begitu cepat Kau ambil dia..
dan apakah saya seorang sahabat yang baik ketika tak menghadiri pemakamannya? Bukan, bukan karena kesedihan saya, tapi karena perintah ibu yang melarang saya bepergian, yang tak ingin saya jauh-jauh darinya pasca gempa itu..Allah…ampuni saya…

Saya pun berjanji bahwa semua sms dia, tak akan satupun saya hapus sampai kapanpun
(walau pada akhirnya semua inbox saya ter’delete” karena kecerobohan saya- saya ingat betapa saya menyesali hal ini berhari2 & terus mencari gimana cara untuk mengembalikan semua inbox saya).

P.S. : pernah beberapa kali, saking rindunya saya padanya, saya menghubungi no.hpnya.
saya tak berharap banyak untuk bisa diangkat..(hehehe), tapi suatu ketika saya mendial up no.nya dan diangkat...(hah??!!) saya kaget dan (Sedikit) takut. tapi ternyata no. tsb telah dimiliki oleh ibu2. aneh saya pikir, bagaimana bisa..tapi yasudah..saya harus mengikhlaskannya..


Dan hari-hari baru pun dimulai, hari baru saya tanpanya, hari baru tanpa sms dari dia, hari baru tanpa ceritanya…

Dan kini, Liska, Nurul ada disini, Nurul sedang berjuang mendapatkan mimpi dan cita-cita..
Liska, Kau tak akan pernah hilang dari ingatan saya. Kau selalu di hati Saudariku.
Maaf ya, lama tak berkunjung ke makammu..maaf, lama tak mengunjungi Bapak-ibu, dan adikmu…
Allah, mohon lindungi dia, mohon jauhkan dia dari segala siksa, sayangi dia…dan mohon sampaikan salam rindu, dan maaf hamba untuknya…
Allah, kuatkan kami, lindungi kami, Nurul mohon…

Special buat sahabat-sahabatku : Febti, Virsya, Ulfah,pipit, Arif, Redy, Adit, Topix, ilham, Miqdam, dll yang tak bisa saya sebutkan satu persatu…
Tolong jenguk makam dia (bagi yang masih di Jogja), tolong doakan dia,,,
Dan tolong, jangan kita saling melupakan, mari saling mendukung dan mendoakan
Jujur, Saya pun sangat kangen kalian,,


Jakarta, 03 Oktober 2010
=saat hujan turus dengan derasnya=

2 komentar:

  1. nuniiiiinnggg....aku terharu baca curhatanmu utk Liska...semoga liska mendapat tempat yg baik di sisi Allah, amiiin...yg penting doa terus niiing

    BalasHapus
  2. thx win..hehehhe

    kadang kangen aja ma dia...karena ma Liska aku merasakan persahabatan yang sebenarnya untuk pertama kalinya..

    ikut doain ya..smga dia bahagia disana..;)

    BalasHapus