Rabu, 08 Desember 2010

SEPEDA OH SEPEDAAN




Seperti minggu-minggu sebelumnya, weekend ini saya buka dengan sepedaan atau bahasa ngetrend saat ini “gowes”, bisa dibilang juga “ngonthel” dalam bahasa jawa. Whatever it is (jadi ingat salah satu bos di kantor yang begitu hobi mengucapkan kalimat ini) apa sebutannya, yang jelas saat ini saya sedang kena wabah sepeda seperti sebagian orang Jakarta. Walau sebenarnya sepedaan merupakan rutinitas saya sewaktu masih berdomisili di Jogja. Namun berkat usaha keras saya (agak lebay) untuk membeli sepeda ini, akhirnya “kengileran” saya akan sepeda tersalurkan, folding bike ini berhasil saya beli!!!!

Dan seperti seminggu yang lalu, pagi ini saya menggowes sepeda bersama “kesendirian”. Ya, belum ada kawan di kos yang punya sepeda, belum ada minat lebih tepatnya. Okelah, tidak menjadi masalah buat saya. Sebelumnya, beberapa minggu lalu, saya sepedaan bersama salah seorang teman yang dikenalkan oleh teman saya yang dulunya dia itu dikenalkan pula oleh teman SMA saya (nah lho, saya sendiri bingung bagaimana menjelaskannya ;D). Namun, si mas ini sekarang lagi sibuk (mungkin) jadi kembalilah saya bersepeda dengan sendiri ;). Dan di saat seperti inilah, saya merasa kangen (agak lebay lagi ;D) bersepeda bersama Komandan dan Kopral saya sewaktu di Jogja. Mereka berdua yang lebih sering menyediakan waktu untuk ikut sepedaan bersama saya. Dari ujung satu ke ujung Jogja lainnya. Menyenangkan!!! Imogiri, Kota, Kulonprogo, bahkan ke wilayah pantai Selatan (untuk berkunjung ke salah satu dosen tercinta kami) pun pernah kami sambangi..hahahha, lagi-lagi kenangan di Jogja memang indah .

Oke, kita mulai dengan pilihan pagi ini. Arah Pulogadung, sebuah arah yang berlawanan dengan seminggu lalu. Entah kenapa, tiba-tiba saya ingin mengunjungi wilayah ini. Mungkin karena rasa penasaran saya akan “apa aja” yang ada di daerah ini. Maklumlah, 5 bulan hidup di Jakarta belum banyak tempat yang bisa saya kunjungi. Dengan program bersepeda setiap weekend, setidaknya saya berhasil menemukan jalur menuju beberapa lokasi di Jakarta ini.

Mulai menggowes sepeda, matahari sudah lumayan terik. Sudah resiko saya pikir, karena memang tadi saya bangun kesiangan dan menyempatkan untuk menulis terlebih dahulu. Kondisi jalan dari kos sampai di Arion mall masih saya hafal, hanya satu tambahan referensi tempat yang membuat “peta” Jakarta di otak saya semakin kaya. Satu tempat yang kemarin dicari teman kos dan kini saya tahu jawabannya. Semoga bisa membantu dia nanti. Saya meneruskan perjalanan saya ke arah Pulogadung, dan Wow!!! Saya sedikit terbelalak melihat apa yang ada di depan mata saya. Walaupun tak asing lagi dengan kedua organisasi ini, namun baru sekarang saya melihat dengan lebih seksama warna symbol dari keduanya.

Di sekitar jalan menuju terminal Pulogadung, ada sebuah partai yang memiliki kantor bersebelahan langsung dengan salah satu pemilik jasa pengiriman barang, kita sebut saja perusahaan T (hehehe). Partai ini seperti yang kita ketahui bersama (Aje gile bahasa aye) mempunyai warna lambang atau bendera lebih umumnya merah-putih-biru (hayo cobalah tebak kawan-kawan, partai apakah itu? ;D), dan hampir saja saya tak bisa membedakan mana yang kantor partai mana yang kantor si perusahaan T, karena kita juga pasti tahu jikalau si T pun punya warna symbol merah-putih-biru!!! Baru tersadar dan langsung saya ambil gambar keduanya..

Sebuah kombinasi warna symbol yang mirip atau bahkan sama menurut saya, entah apa maksud di balik itu. Namun jika dilihat dari sejarah siapa yang lebih dahulu memiliki warna symbol ini, sepengetahuan saya itu si T yang berdiri sekitar tahun 1990an. hmmmmmmmmmmmmm, semoga ada hal-hal positif yang ingin diambil si pendiri partai dari perusahaan T. Seperti yang telah diketahui khalayak umum (masya Allah dialektika saya..hehehe ;D) T merupakan akronim dari Titipan kilat yang menurut pemahaman saya sebagai usaha bagaimana mereka akan melakukan pengiriman cepat bahkan kilat dari pengirim ke penerima. So? Saya pikir sang pendiri partai ingin meniru bagaimana si T melaksanakan tugasnya yaitu cepat-kilat. Ya…walau menurut pendapat saya, sang pendiri kini lebih banyak atau sedang “lambat” dalam menjalankan fungsinya sebagai kepala Negara (oupssss..ketahuan dach ;( ). Kita lihat bagaimana reaksinya terhadap masalah-masalah di negeri ini, dari korupsi, penggelapan pajak, masalah per-bank-an, bahkan bencana, pemerintah terkesan tidak cepat apalagi kilat. Beliau yang kini malah sering mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang kontra dengan keinginan rakyatnya (Sebagai warga Jogja, saya masih ingat bagaimana dia berpidato tentang keistimewaan Jogja dengan kata-kata yang menurut saya sangat tidak sejalan dengan pemikiran para pendiri negeri ini). Entahlah, saya hanya berharap sang pemerintah segera sadar dan introspeksi bagaimana kinerja mereka selama ini. Amin…
Oke, kita sudahi dulu masalah politik ini, dan kita kembali ke sepedaan. Setelah mengambil gambar, saya langsung menggenjot kembali sepeda saya. sangat tercengang ketika akhirnya saya menemukan papan besar bertuliskan:

Saya heran, ternyata tempat ini begitu dekat dengan kos, kira-kira 30-40 menit perjalanan dengan sepeda (P.S : kondisi tidak macet ;D). kawasan yang sewaktu kuliah menjadi bahan pembicaraan karena memang beberapa perusahaan yang dicita-citakan ada disini. Huaaaaahhhh, namun rasa girang langsung berbalik hampir 1800 ketika saya mulai berjumpa dengan kontainer-kontainer besar, truk-truk yang menebarkan debu dengan sangat tidak sopannya. Hohoho..namun saya segera memaklumkan kondisi ini, bagaimana tidak, ini kawasan industry dan ya begini…. Huft, sangat dan teramat berbeda dengan kawasan menteng yang seminggu lalu saya jelajahi, tenang, tertata, bersih dan segar ;).
Namun, karena rasa penasaran yang kembali merajai otak, saya pun mulai memasuki distrik demi distrik. Dimulai dari salah satu perusahaan kosmetika, kemudian lanjut ke farmasi (dimana saya menemukan salah satu distributor perusahaan tempat saya bekerja ada di situ), perusahaan motor dan lain-lain. Saya begitu interest melihat bagaimana semuanya berjalan, melihat anak kecil bermain-main di tengah debu-debu jalan, kambing yang berkeliaran di dekat sebuah pabrik, sampai aktivitas penjual buah yang riuh dengan dagangannya. Hingga tepat ketika mobile phone saya berbunyi (telepon dari seorang kopral ;D), mata saya menangkap sebuah perusahaan yang dulu sangat saya impi-impikan…haha!!! Semoga akan menjadi kenyataan di tempat yang lebih baik. Amin.

Walau belum puas mengitari kawasan ini, saya memutuskan untuk segera pulang karena ada janji dengan kawan lama. Namun apa dikata, karena tidak berbekal peta dan papan petunjuk yang biasanya menjadi andalan ketika tersesat tidak bisa menjelaskan lokasi dmana saya kini berada, akhirnya saya lumayan lama berputar-putar di kawasan itu. Agak parno juga, namun Alhamdulillah berkat insting yang sedikit berjalan, saya berhasil menemukan pintu keluar. Hurray!!!
Dan begitulah pengalaman saya weekend ini bersama folding bike yang selalu diam dan pasrah kemanapun saya bawa pergi. Beberapa pelajaran yang saya dapat dari sepedaan kali ini:
1.Jangan mulai sepedaan terlalu siang, karena tangan akan “gosong” dan matahari menyengat-nyengat kulit hasilnya ;(
2.Mulailah “pintar” membaca peta dimanapun berada ;)
3.Saya tidak akan membesarkan anak saya (kelak) di kawasan industry karena masya Allah polusinya. Hehehehe
Sekian dan mari kita makan


=ditulis berdasar rekaman di Otak=
Jakarta, 04 Dec 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar